Showing posts with label Financial. Show all posts
Showing posts with label Financial. Show all posts

Friday, April 12, 2019

FINANCIAL : Gaji UMR Investasi Dimana?


Investasi adalah menempatkan dana pada instrumen tertentu dengan harapan pertumbuhan modal dikemudian hari. Sudah sadar pentingnya investasi? Bagus! Kalau belum, mari cari tahu...

Manajemen keuangan sangatlah penting. Penghasilan yang diperoleh dan bagaimana menggunakannya harus diperhitungkan agar tidak keluar untuk hal yang tidak perlu dan berujung pemborosan.

Ingin tahu rahasia menjadi orang sukses secara finansial dan berkecukupan? Jangan tanyakan apa pekerjaan mereka, tapi tanyakan bagaimana mereka mengelola dan menempatkan uangnya. Yup, salah satunya dengan investasi. Apakah bisa diaplikasikan untuk orang bergaji UMR? Sangat bisa! Jangan membatasi diri untuk bermimpi besar hanya karena langkahmu jauh di bawah mereka yang telah sukses finansial. Ingat, mereka pun mendapatkan kesuksesan tersebut berproses, tidak dalam semalam. So, keep going!

Lalu, investasi seperti apa untuk yang bergaji UMR dan mudah untuk dilakukan?

1. Reksadana
Reksadana adalah sebuah wadah untuk menghimpun dana investor, yang akan diinvestasikan pada portofolio efek dan dikelola oleh Manajer Investasi. Reksadana ini cocok untuk yang mau berinvestasi, tapi waktu, modal, dan pengetahuannya terbatas.

Reksadana terbagi beberapa macam dan dikelompokkan berdasarkan risikonya. Secara singkat seperti di bawah ini :
  • Reksadana Pasar Uang : Risiko investasi rendah. Instrumen investasi pada Deposito dan Obligasi <1th. Tipe investor konservatif yang berinvestasi jangka pendek <1 tahun.
  • Reksadana Pendapatan Tetap : Risiko investasi lebih besar dari Pasar Uang. Instrumen investasi pada Obligasi pemerintah atau korporasi. Tipe investor konservatif yang berinvestasi jangka pendek 1-3 tahun.
  • Reksadana Campuran : Risiko investasi cukup tinggi. Instrumen investasi pada Saham dan Obligasi. Tipe investor moderat yang berinvestasi jangka menengah 3-5 tahun.
  • Reksadana Saham : Risiko investasi tinggi. Instrumen investasi pada Saham. Tipe investor agresif yang berinvestasi jangka panjang >5 tahun.
Hal-hal di atas harus dan wajib diketahui sebelum membeli reksadana. Tetapkan tujuan berinvestasi dan sesuaikanlah dengan profil risiko. Karena pada banyak kasus, orang asal berinvestasi tanpa tau tujuan dan risikonya, sehingga ketika seseorang berinvestasi di reksadana campuran dan berharap profit di tahun pertama, ada kemungkinan kecewa karena reksadana campuran direkomendasikan untuk investor jangka menengah 3-5 tahun. Perlu dicatat, bahwa berinvestasi di reksadana tidak ada jaminan hasil yang pasti. Semua tergantung pada kinerja masing-masing instrumen investasi.

Dimana bisa membeli reksadana? Reksadana bisa dibeli di Bank, Sekuritas atau agent-agent penjual reksadana seperti Marketplace. Tentu bisa dimulai hanya dari Rp. 100.000. Sangat terjangkau, kan? Jadi, jangan ada alasan tidak berinvestasi dari sekarang ya!

2. P2P Lending
P2P Lending (Peer to Peer Lending) merupakan sebuah instrumen investasi yang cukup baru. Cara kerja P2P Lending sama seperti Marketplace yang mempertemukan antara penjual dan pembeli. Pada prinsipnya, P2P Lending pinjam-meminjamkan dana, investor akan dipertemukan oleh peminjam secara online. Dalam P2P Lending, investor bisa mendanai beberapa pinjaman dan peminjam bisa mendapatkan dana pinjaman dari beberapa investor. 

Keuntungan yang didapatkan cukup menarik, investor akan mendapatkan nilai pokok serta bunga. Investasinya juga cukup minim, bisa dimulai dari Rp. 100.000. Di samping keuntungan, ada risiko juga yang harus dipahami. Misal, jika peminjam telambat bayar atau bahkan gagal bayar pada investor, maka dana investor bisa hilang. Meskipun hal itu tidak sepenuhnya terjadi di perusahaan P2P Lending, tapi ada baiknya pilihlah perusahaan P2P Lending yang tepat, yang mampu menjamin kegagalan bayar si peminjam dan menggantikan modal investor.

Nah, 2 pilihan investasi di atas adalah financial investment, dimana kita tidak dapat melihat wujud dari investasi yang dilakukan. Tidak seperti properti dan emas yang memiliki wujud. Sebenarnya masih banyak instrumen investasi lain yang bisa menjadi opsi untuk berinvestasi dengan modal minim. Tapi, 2 di atas bisa menjadi pilihan terbaik.

Pada dasarnya, carilah instrumen investasi yang memiliki capital gain juga menghasilkan cash flow. Perlu diperhatikan untuk tidak berinvestasi dengan berhutang, risikonya akan sangat besar terutama pada instrumen yang tidak memiliki kepastian. Jangan lupa, prioritaskan asuransi kesehatan sebagai manajemen risiko dan persiapkan dana darurat sebelum berinvestasi. Perbanyak investasi pada diri sendiri melalui ilmu dan skill-skill baru. Selamat mencoba!

Wednesday, August 22, 2018

FINANCIAL : Trading atau Investing?


Tentu pertanyaan seperti ini mungkin pernah hinggap di kepala kita, berhubung keduanya sama-sama menanamkan modal dengan harapan pertumbuhan dana dikemudian hari untuk imbal hasil yang lebih besar.

Jadi, trading atau investing? Tentu jawabannya adalah insurance.

Loh? Kok jadi asuransi? Konsep trading dan investing kan berbeda dengan asuransi?!

Sebelum membahas mengenai statement tersebut, sesuai judul konten ini, mari kotakkan antara trading dan investing.

Seorang trader, biasanya melakukan Buy and Sell dalam waktu yang singkat/jangka pendek.
Trading lebih fokus pada potensi return yang akan didapatkan sehingga harga menjadi acuan utama untuk melakukan Buy and Sell, dan tujuan utama trading adalah memperoleh capital gain.
Biasanya analisa teknikal lebih sering digunakan untuk memantau arah pergerakan harga.
Instrumen trading diantaranya saham, forex, cryptocurrency, dsb.

Seorang investor, biasanya melakukan Buy and Sell dalam jangka waktu yang lama. Dengan kata lain, dana tersebut di Hold sampai waktunya nanti melakukan Sell.
Investor lebih fokus pada pertumbuhan suatu perusahaan karena tujuan utama investing adalah memperoleh capital gain dan cash flow.
Biasanya analisa fundamental lebih sering digunakan untuk menganalisis ekonomi suatu perusahaan mengacu pada laporan keuangan dan histori perusahaan tersebut.
Instrumen investing diantaranya properti, deposito, saham, obligasi, dsb.

Lebih untung mana?

Pada dasarnya trading maupun investing sama-sama memiliki potensi keuntungan yang besar. Terbukti dari banyaknya pebisnis Indonesia yang mencapai puncak kesuksesan melalui trading dan investing. Termasuk tokoh dunia seperti George Soros dan Warren Buffet. George Soros? Yup, dia sering dikait-kaitkan dengan Krisis Moneter 1997 dan peristiwa Black Wednesday 1992 di Inggris. Dia dijuluki sebagai spekulan ulung dan teori relfeksifitasnya.

Trading dan investing memang menguntungkan, merupakan hal yang sangat direkomendasikan oleh para konsultan keuangan. Tapi, bagaimana jika kepastian hidup tiba-tiba datang?

Sakit? Meninggal? Tua? Apakah ada yang bisa menghindar dari 3 kepastian tersebut?
Jika sakit, membutuhkan biaya besar, tidak bisa bekerja, tabungan, investasi, semua aset hasil kerja keras akan tergerus biaya rumah sakit dan pengobatan yang mahal.
Jika meninggal, sampai berapa lama harta bisa menghidupi keluarga tercinta yang ditinggal? Bagaimana dengan pendapatan, hutang, dan biaya pendidikan anak?
Jika tua, tentu memiliki risiko sakit dan meninggal yang lebih besar. Pada saat itu, biaya asuransi sudah tidak lagi terjangkau.

Jadi, pertanyaannya bukan lagi lebih untung mana. Melainkan lebih penting mana? Sebelum melangkah ke trading dan investing, financial planning yang baik dan tepat adalah memiliki asuransi sebagai manajemen risiko terhadap diri dan aset.

Investasi merupakan langkah selanjutnya untuk mencapai financial success. Investasi bisa dilakukan dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Sesuai kebutuhan dan tujuan. Untuk instrumen investasi jangka pendek yaitu ; deposito, SBI. Namun kekurangan dari instrumen investasi ini adalah tidak ada cash flow dan pajak final 20%. Berbeda dengan investasi jangka panjang seperti ; properti, saham, obligasi, dsb. Properti bisa disewakan, dapat passive income. Saham dapat dividen. Obligasi dapat kupon. Namun kekurangan dari instrumen investasi ini adalah diperlukan modal yang cukup. Meskipun pajak yang dikenakan tidak lebih besar dari deposito dan SBI. Di samping itu, untuk menjadi investor saham diperlukan pengetahuan yang cukup, strategi serta kepiawaian dalam menganalisa pasar.

Sebagai solusi untuk berinvestasi dengan dana minim, tidak memerlukan keterampilan khusus dan tidak menyita waktu, yaitu berinvestasi di reksadana. Sebuah produk investasi yang menawarkan beberapa instrumen pasar modal dan dikelola oleh manajer investasi yang mumpuni. Dengan dana yang cukup, kita bahkan bisa mengalokasikan dana sekaligus pada berbagai instrumen pasar modal sehingga lebih terdiversifikasi.

Terakhir, trading salah satu cara yang baik untuk meningkatkan income. Apalagi saat ini onlline trading semakin menjamur dengan segala kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan. Dalam instrumen saham misal, terdapat beberapa fitur yang memudahkan analisis teknikal. Tapi, harus cermat dalam memilih broker dan ketahui persis regulatornya.

Kembali lagi, semua instrumen trading maupun investing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tentukan tujuan dan pahami profil risiko sebelum memutuskan. Jangan lupa, berasuransi dari sekarang, sayangi diri dan keluarga. Antisipasi kerugian sesegera mungkin. Seperti kutipan dari Pak Mario Teguh :

"Uang kecil beli uang besar, itulah asuransi. Jika kamu tidak paksa diri bayar uang kecil, maka kamu akan dipaksa bayar uang besar. Simple."

Jadi, siapkan sebaik-baiknya. :-)

Friday, June 8, 2018

FINANCIAL : Keuangan Perusahaan Asuransi yang Sehat

Rasio Solvabilitas adalah rasio yang menunjukkan kemampuan sebuah perusahaan memenuhi kewajibannya dilihat dari besarnya aktiva sebuah perusahaan yang didanai dengan utang. Dengan kata lain, seberapa besar beban utang yang ditanggung oleh perusahaan dibandingkan dengan aktivanya.

Metode Risk Based Capital (RBC) adalah perhitungan tingkat solvabilitas sebagai ukuran tingkat kesehatan finansial dari suatu perusahaan asuransi. Risk Based Capital (RBC) memperhitungkan risiko kegagalan pengelolaan aset, ketidakseimbangan nilai aset dan kewajiban, perbedaan beban klaim yang diperkirakan dan ketidakmampuan perusahaan memenuhi kewajiban membayar klaim.

Pemerintah menetapkan tingkat solvabilitas perusahaan asuransi dengan ketentuan minimum sebesar 120% yang artinya apabila seluruh nasabah mengajukan klaim maka perusahaan asuransi dapat memenuhi seluruh kewajibannya dan masih memiliki cadangan sebesar 20%. Hal ini ditetapkan pada Keputusan Menteri Keuangan No. 424/KMK.06/2003 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.

Maka dari itu perusahaan asuransi dengan rasio solvabilitas setidaknya 2 kali lipat dari standar pemerintah, memiliki aset dan kekuatan modal yang cukup untuk menutup kemungkinan kegagalan pengelolaan aset dan risiko lain termasuk memenuhi seluruh kewajibannya pada nasabah asuransi. Jadi, semakin besar tingkat solvabilitas sebuah perusahaan asuransi maka semakin sehat kondisi finansial perusahaan asuransi tersebut.

Sangat penting mengetahui tingkat rasio solvabilitas suatu perusahaan asuransi karena perusahaan asuransi memberikan jaminan kerugian dari risiki-risiko finansial yang terjadi pada nasabah asuransi.

Fungsi dari Risk Based Capital (RBC) adalah :

1. Melindungi nasabah dari kerugian jika terjadi masalah sebagai akibat dari deviasi  pengelolaan kekayaan dan kewajiban.

2. Tingkat solvabilitas perusahaan asuransi diawasi ketat karena wajib setor laporan keuangan per-kuartal sehingga tidak sampai mengalami kerugian.

3. Kredibilitas asuransi terjaga.

Laporan Keu. Zurich 2017

Pada tahun 2017, rasio pencapaian solvabilitas Zurich sebesar 1078% which is memiliki tingkat solvabilitas sangat baik karena jauh dari standar yang ditetapkan pemerintah sebesar 120%.

Untuk rasio pencapaian Zurich dari tahun ke tahun (sumber : Laporan Keuangan Zurich) :
2012 sebesar 2460%
2013 sebesar 2552%
2014 sebesar 1917%
2015 sebesar 682%
2016 sebesar 908%
2017 sebesar 1078%


Di samping itu Zurich memiliki predikat AA- (Very Strong) menurut lembaga pemeringkat Internasional Standard and Poor's. Zurich juga telah hadir di lebih dari 210 negara di dunia sementara jumlah negara yang tercatat di PBB saja hanya 193 negara. Hal itu menandakan Zurich memiliki jaringan yang luas. :-)

Wednesday, May 16, 2018

FINANCIAL : Limited Investment Program

Asuransi Dwiguna (Endowment Insurance) adalah proteksi yang memberikan uang pertanggungan saat tertanggung meninggal dalam masa asuransi, sekaligus memberikan seluruh uang pertanggungan jika ia masih hidup sampai kontrak berakhir.

Fokus asuransi dwiguna lebih kepada tabungan sehingga bisa dijadikan pelengkap untuk perencaanaan keuangan di masa depan, dan hasilnya pasti/dijamin, membuat asuransi dwiguna sangat aman.


Zurich memiliki program asuransi dwiguna pertama di Indonesia yang menawarkan manfaat ganda ; berupa cash back tahunan dijamin dan hasil investasi potensial dengan perbandingan 60 : 40.

Profit-8 =   Asuransi Dwiguna + Investasi
              (           Aman           + Potensi Return Optimal)

Manfaat :
1. Uang Pertanggungan.
    Pembayaran premi hanya 8 tahun dapat perlindungan selama 20 tahun.
2. Cash Back Tahunan sebesar 240% dari Premi.
    Tahun 1 - 10     8%.
    Tahun 11 - 20 16%.
3. Manfaat Nilai Tunai.
4. Manfaat Akhir (Tahun ke-20) sebesar 300% dari Premi.
5. Manfaat Investasi.

Contoh ilustrasi :


Bapak John, usia 30 tahun, membeli Zurich Profit-8 untuk merencanakan pensiunnya. Dia membayar premi Rp. 50 juta per tahun.

Manfaat yang akan didapatkan oleh Bapak John adalah :

1. Uang Pertanggungan. (DIJAMIN)
    Bapak John akan menerima sejumlah uang jika terjadi risiko meninggal
    dunia dan cacat tetap total sebesar Nilai Uang Pertanggungan pada
    tahun tersebut.

2. Cash Back Tahunan. (DIJAMIN)
    Tahun 1 - 10     8% = Rp. 3.981 juta.
    Tahun 11 - 20 16% = Rp. 7.961 juta.
*Fasilitas :
- Jika dalam 45 hari Bapak John tidak membayarkan premi maka Cash Back Tahunan akan dialihkan untuk membayar premi (Pinjaman Premi Otomatis).
- Bapak John bisa memasukkan seluruh Cash Back Tahunannya ke Investasi.

3. Manfaat Nilai Tunai. (DIJAMIN)
    Jika Bapak John mengajukan permohonan penebusan polis (Surrender),
    maka Nilai Tunai yang terbentuk di tahun tersebut akan dibayarkan kepada
    Bapak John.
*Fasilitas :
Jika dalam 45 hari Bapak John tidak membayarkan premi dan Cash Back Tahunan diinvestasikan, maka Nilai Tunai yang terbentuk akan dialihkan untuk membayar premi (Pinjaman Premi Otomatis).

4. Manfaat Akhir (Tahun ke-20). (DIJAMIN)
    Bapak John akan menerima 300% = Rp.149.275 juta.

5. Manfaat Investasi.
    Bapak John akan menerima Nilai Investasi yang terbentuk di tahun ke-20
    dengan asumsi return 5% sebesar Rp. 507.164 juta.
*Fasilitas :
- Bapak John baru bisa menarik hasil investasi sebagian/seluruhnya mulai tahun ke-7.
- Bapak John bisa melakukan Top Up Tunggal dengan minimum dana Rp. 1 juta.
- Bapak John bisa menarik hasil investasi dari Top Up Tunggal sewaktu-waktu.

***Tambahan : Untuk premi >Rp. 500 juta tidak dikenakan biaya alokasi 5%.

Kesimpulan : Bapak John membayar premi selama 8 tahun Rp. 400 juta. Jika tidak terjadi risiko apapun pada Bapak John selama 20 tahun dan tidak melakukan surrender maka Bapak John akan mendapatkan 540% yang dijamin dari Cash Back Tahunan 240% (8% x 10 + 16% x 10) dan 300% Manfaat Akhir sebesar Rp. 268.695 juta dan Nilai Investasi dengan asumsi terendah Rp. 507.164 juta. Jadi, total yang akan diterima Bapak John di tahun ke-20 sebesar Rp. 775.859.

Sudah memiliki perlindungan jiwa & kesehatan? Profit-8 bisa dijadikan pelengkap sebagai perencanaan keuangan di masa depan serta menambah uang pertanggunan. Berikut cara menabung sekaligus memberikan potensi return investasi yang optimal.

Contoh ilustrasi :

Bapak John, usia 30 tahun, membeli Zurich Profit-8 untuk merencanakan pensiunnya. Dia membayar premi Rp. 20 juta per tahun dan melakukan Top Up sebesar Rp. 240 juta.

Kesamaan dengan ilustrasi pertama adalah Bapak John sama-sama mengalokasikan dananya sebesar Rp. 400 juta.

Perbedaannya, karena Bapak John hanya membayar premi Rp. 20 juta, sehingga Nilai Uang Pertanggungan, Cash Back Tahunan, Nilai Tunai dan Manfaat Akhir Tahunnya kecil.

Kelebihannya, Bapak John memiliki potensi return investasi yang sangat besar dan hasil investasi dari Top Up Tunggal bisa ditarik sebagian/seluruhnya sewaktu-waktu sesuai nilai investasi yang berkembang pada tahun tersebut. Kemudian, jika nilai investasi diasumsikan berkembang 5% per tahun, maka Bapak John BEP di tahun ke-7. Sementara di ilustrasi pertama Bapak John BEP di tahun ke-16.


Kinerja saham memang fluktuatif bahkan harga bisa melonjak tajam atau terjun bebas melemah yang berarti sedang terjadi volatilitas tinggi. Maka dari itu berinvestasi di saham dalam jangka pendek sangat berisiko. Tapi, akan sangat menguntungkan dalam jangka panjang. Plus, dana kelolaan tidak 100% diinstrumen saham, tapi didiversifikasi pada instrumen lain untuk antisipasi kerugian total.

Dana nasabah Zurich dikelola oleh perusahaan manajemen investasi yang mumpuni dan kredibel yaitu PT. Schroder Investment Management Indonesia dengan total dana kelolaan mencapai Rp. 82.3 T (per Juni 2018) terbesar di Indonesia. 

Tercatat kinerja 1 tahun terakhir Zurich 16.48%. Wow!


Program Profit-8 ini cocok untuk merencanakan keuangan di masa depan, seperti rencana dana pendidikan, dana pensiun serta kebutuhan lain dalam jangka panjang. Sama halnya seperti instrumen investasi lain, namun program ini aman dan memiliki jaminan. Jangan lupa, asuransi tidak termasuk objek pajak. :-)

Saturday, May 12, 2018

FINANCIAL : Asuransi Gaya Hidup Orang Cerdas

Masyarakat Indonesia belum banyak yang mengerti manfaat asuransi. Salah satunya karena minim literasi asuransi atau rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memiliki asuransi. Berbeda halnya jika dibandingkan dengan negeri tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga negara-negara maju di Barat.


Di US, Jepang, dan negara-negara Eropa, meskipun ada sistem jaminan sosial yang baik, asuransi masih menjadi elemen penting bagi kehidupan warganya. Bahkan di Jepang klaim asuransi bisa bernilai rata-rata antara 2 - 6 milyar rupiah per kematian. Itu hanya orang biasa, bukan orang kelas sosial atas yang lebih besar lagi nilainya.

Negara maju dan negara berkembang juga memiliki perbedaan pola dalam mengelola penghasilannya. Saat masyarakat negara maju mendapatkan penghasilan, hal pertama yang dilakukan adalah mengalokasikan dana di asuransi. Maka bukan hal asing lagi jika di negara maju per orang bisa memiliki 4 - 7 polis, karena mereka tidak takut kehilangan sebagian kecil uangnya daripada kehilangan uang yang lebih besar dikemudian hari jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (risiko kehidupan).

Sementara dalam masyarakat negara berkembang, salah satunya Indonesia, sebagian besar orang lebih takut kehilangan uang untuk asuransi sehingga tidak berpikir ulang untuk menyisihkan penghasilan mereka sebagai keperluan proteksi diri serta harta benda. Bahkan lebih memilih menghabiskan uang untuk belanja atau gaya hidup konsumtif.


Asuransi bukan semata karena kecil besarnya penghasilan. Nyatanya dari kalangan sosial menengah ke atas pun masih kurang kesadaran terhadap asuransi. Kata "cerdas" mungkin lebih tepat menggambarkan tindakan memiliki asuransi. Masih banyak kesalahan-kesalahan persepsi masyarakat terhadap asuransi. Salah satunya asuransi jiwa. Beberapa orang mengartikan bahwa ikut asuransi jiwa sama dengan tidak berserah pada Tuhan, dengan memberi harga pada nyawanya sendiri, karena nyawa adalah milik Tuhan dan manusia tidak berhak menjamin nyawanya pada pihak lain. Terdengar menakutkan, kan? Padahal memiliki asuransi bukan karena orang tersebut akan meninggal, tapi sebagai garansi penghasilan jika terjadi risiko kehidupan dan sebagai jaminan untuk keluarga yang ditinggalkan tetap bisa hidup dengan layak. Kesalahan persepsi lainnya terjadi pada masyarakat yang membeli asuransi sebagai langkah investasi. Pandangan seperti itu sebenarnya salah kaprah. Asuransi adalah salah satu strategi manajemen risiko finansial. Dengan membeli produk asuransi, maka mengalihkan risiko keuangan pada pihak ketiga yaitu perusahaan asuransi. Fokus utama asuransi adalah melindungi dari risiko finansial, investasi hanya sebagai tambahan.

Tak dapat dipungkiri, di Indonesia tingkat respondensitas tentang asuransi sangat rendah, masih banyak orang yang apatis bahkan anti terhadap asuransi. Beberapa diantaranya karena pelayanan buruk asuransi yang pernah terjadi di Indonesia, mulai dari pengurusan klaim yang cukup rumit dan menyita waktu, akumulasi dana yang sudah ditabungkan, dan hasil investasi tidak sesuai, dsb.


Oleh karena itu, baik untuk mendiskusikan kebutuhan ini dengan seorang financial planner. Financial planner akan membantu merancang masa depan klien, membantu memiliki proteksi finansial yang baik serta menganalisa pengalokasian dana klien agar produktif dan tepat guna.

Wednesday, May 9, 2018

FINANCIAL : Mengenal Asuransi

Asuransi tidak penting jika manusia kebal terhadap sakit, kebal terhadap kecelakaan, kebal terhadap cacat, kebal terhadap meninggal, dan kebal terhadap tua. Tapi, sayangnya semua manusia memiliki risiko tersebut terutama sakit, meninggal, dan tua. Meskipun tidak dapat diduga kapan datangnya, kepada siapa, dan dimana.

Lalu, apa keuntungan asuransi? Lebih baik menabung di Bank yang jelas mendatangkan keuntungan, bukan?

Sebelum membahas lebih lanjut, ada baiknya kita mengetahui jenis-jenis asuransi jiwa :

Asuransi Tradisional :
1. Asuransi Berjangka (Term Life Insurance) = Ciri ; premi hangus.
2. Asuransi Jiwa Seumur Hidup (Whole Life Insurance) = Ciri ; perlindungan sampai 100 tahun dan ada nilai tunai.
3. Asuransi Dwiguna (Endowment Insurance) = Ciri ; bisa menarik dana sebelum kontrak dan ada nilai tunai.

Asuransi Non-Tradisional :
1. Unit Link adalah asuransi yang memiliki fungsi proteksi dan investasi.


Kenapa butuh asuransi yang meng-cover KESEHATAN?

Simak baik-baik gambaran berikut.

"Dengan 1 juta/bulan kita membutuhkan waktu 1000 bulan/83 tahun menabung di Bank untuk mengumpulkan uang 1 Miliar."

Siapa yang bisa menjamin dalam waktu 80 tahun tersebut tidak terjadi risiko apapun? Bagaimana jika di tahun ke 40 terdiagnosa salah satu penyakit dan memerlukan biaya besar untuk pengobatan sehingga menguras tabungan yang belum seberapa besar?

Itulah gunanya asuransi kesehatan. Asuransi kesehatan memberikan rasa aman dan meminimalkan risiko finansial. Kita tidak perlu memikirkan lagi beban biaya Rumah Sakit dan sebagainya. Bahkan asuransi kesehatan sekaligus melindungi tabungan kita. Bukankah lebih baik menggunakan kantong orang lain daripada menggunakan kantong sendiri? Dan yang bisa membantu dari risiko finansial tersebut adalah kantong asuransi.


Kenapa butuh asuransi yang meng-cover JIWA?

Karena kematian adalah hal yang pasti. Kematian bukan karena penyakit belaka, bukan karena kecelakaan dan yang lainnya. Kematian adalah habisnya waktu seseorang di dunia. Di Yunani ada istilah Apoptosis (apo, "by, from, of, since, than" dan ptosis, "fall"). Diksi tersebut digunakan orang Yunani untuk mendeskripsikan fenomena daun yang berguguran. Gugur bukan karena angin, melainkan karena waktu mereka telah habis, atau selnya sudah mati.

Sebagai umat manusia, kita harus selalu siap untuk menyambut kematian terlepas dari segala effort kita untuk tetap hidup. Terutama jika seorang pencari nafkah dan mengalami risiko tersebut, siapa yang akan membiayai dan melindungi keluarga dari masalah keuangan setelah kepergian pencari nafkah? Asuransi jiwa bisa mengatasi hal ini. Asuransi jiwa mampu menjaga dan membahagiakan keluarga seumur hidup, asuransi jiwa memastikan keluarga tetap sejahtera dan mempertahankan standar kualitas hidup manakala ditinggal orang tercinta atau pencari nafkah.


Unit Link = Proteksi + Investasi

Unit Link adalah asuransi jiwa seumur hidup yang dipadukan dengan investasi. Kita juga bisa menambahkan Rider/asuransi tambahan seperti rawat inap, sakit kritis dan lain sebagainya sesuai yang disediakan oleh perusahaan asuransi tertentu, dan dengan tambahan biaya pula.

Premi yang dibayarkan, akan diinvestasikan di pasar modal setelah dipotong biaya akuisisi. Ada berbagai macam instrumen investasi yang dapat dipilih, yaitu ; pasar uang, obligasi, saham atau campuran dengan profil risiko masing-masing. Akan lebih baik tentukan dulu tujuan sebelum memutuskan memilih Unit Link.

Unit Link adalah asuransi modern yang fungsinya mempermudah nasabah untuk memiliki asuransi.

Jika tujuannya untuk perlindungan kesehatan, Unit Link bisa menjadi opsi karena premi yang dibayarkan stagnan hingga usia 99/100 tahun. Berbeda dengan asuransi kesehatan tradisional yang memiliki jangka waktu tertentu dan premi terus meningkat setiap tahunnya. Nilai investasi yang berkembang di Unit Link bisa untuk dibayarkan sisa premi ketika melakukan cuti premi, karena pembayaran premi berlangsung hingga usia 99/100 tahun.

Jika tujuannya untuk perlindungan jiwa, Unit Link pilihan yang bagus. Uang pertanggunggan dan potensi hasil investasinya cukup besar sehingga bisa dimanfaatkan juga untuk perencanaan dana pendidikan dan dana pensiun. 

Untuk dana pendidikan, bisa memilih produk Unit Link yang mengelola portofolio di instrumen pasar uang atau obligasi atau campuran, karena profil risiko rendah - sedang.

Untuk dana pensiun, bisa memilih produk Unit Link yang mengelola portofolio di instrumen saham, karena meskipun profil risiko agresif namun dalam jangka panjang sangat menguntungkan.

Kalau merencanakan dana darurat, lebih baik menyisihkan uang untuk dialokasikan di reksadana, tidak disarankan di Unit Link, karena nilai investasi yang berkembang di reksadana lebih likuid. Kita bisa memilih instrumen yang mengelola portofolio di deposito/pasar uang, karena profil risiko rendah.

Pada dasarnya Unit Link memberikan perlindungan jiwa dan manfaat investasi. Jika menambahkan berbagai perlindungan kesehatan dan di samping itu mengharapkan nilai investasi yang tinggi dari Unit Link, maka salah langkah. Unit Link tidak disarankan untuk tujuan investasi karena hasilnya tidak akan optimal, ada COI (Cost of Insurance), COR (Cost of Rider) dan biaya lainnya, sehingga nilai investasi tidak maksimal.

JADI, TENTUKAN TUJUAN SEBELUM MEMILIH UNIT LINK, UNTUK PROTEKSI ATAU INVESTASI? 

Tapi, akan lebih baik jika kita menginginkan perencanaan keuangan untuk masa depan, kita memilih gabungan asuransi dwiguna (Endowment Insurance) dan investasi, karena ada jaminan cash back/tahun dan memiliki hasil investasi potensial. Penjelasannya DI SINI.


Ya, jadi itulah alasan kenapa memiliki asuransi itu penting. Asuransi adalah perlidungan terhadap risiko fiinansial yang terjadi ketika kita mengalami sakit, kecelakaan, cacat, meninggal atau tua.

Kira-kira, jika tidak ada asuransi di dunia ini, adakah produk lain yang bisa membantu kita menyelematkan dari kehidupan finansial yang bermasalah?

Pastinya, hanya asuransi.

Jadi, persiapkanlah dengan sebaik-baiknya. :-)