Saturday, May 12, 2018

FINANCIAL : Asuransi Gaya Hidup Orang Cerdas

Masyarakat Indonesia belum banyak yang mengerti manfaat asuransi. Salah satunya karena minim literasi asuransi atau rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memiliki asuransi. Berbeda halnya jika dibandingkan dengan negeri tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga negara-negara maju di Barat.


Di US, Jepang, dan negara-negara Eropa, meskipun ada sistem jaminan sosial yang baik, asuransi masih menjadi elemen penting bagi kehidupan warganya. Bahkan di Jepang klaim asuransi bisa bernilai rata-rata antara 2 - 6 milyar rupiah per kematian. Itu hanya orang biasa, bukan orang kelas sosial atas yang lebih besar lagi nilainya.

Negara maju dan negara berkembang juga memiliki perbedaan pola dalam mengelola penghasilannya. Saat masyarakat negara maju mendapatkan penghasilan, hal pertama yang dilakukan adalah mengalokasikan dana di asuransi. Maka bukan hal asing lagi jika di negara maju per orang bisa memiliki 4 - 7 polis, karena mereka tidak takut kehilangan sebagian kecil uangnya daripada kehilangan uang yang lebih besar dikemudian hari jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (risiko kehidupan).

Sementara dalam masyarakat negara berkembang, salah satunya Indonesia, sebagian besar orang lebih takut kehilangan uang untuk asuransi sehingga tidak berpikir ulang untuk menyisihkan penghasilan mereka sebagai keperluan proteksi diri serta harta benda. Bahkan lebih memilih menghabiskan uang untuk belanja atau gaya hidup konsumtif.


Asuransi bukan semata karena kecil besarnya penghasilan. Nyatanya dari kalangan sosial menengah ke atas pun masih kurang kesadaran terhadap asuransi. Kata "cerdas" mungkin lebih tepat menggambarkan tindakan memiliki asuransi. Masih banyak kesalahan-kesalahan persepsi masyarakat terhadap asuransi. Salah satunya asuransi jiwa. Beberapa orang mengartikan bahwa ikut asuransi jiwa sama dengan tidak berserah pada Tuhan, dengan memberi harga pada nyawanya sendiri, karena nyawa adalah milik Tuhan dan manusia tidak berhak menjamin nyawanya pada pihak lain. Terdengar menakutkan, kan? Padahal memiliki asuransi bukan karena orang tersebut akan meninggal, tapi sebagai garansi penghasilan jika terjadi risiko kehidupan dan sebagai jaminan untuk keluarga yang ditinggalkan tetap bisa hidup dengan layak. Kesalahan persepsi lainnya terjadi pada masyarakat yang membeli asuransi sebagai langkah investasi. Pandangan seperti itu sebenarnya salah kaprah. Asuransi adalah salah satu strategi manajemen risiko finansial. Dengan membeli produk asuransi, maka mengalihkan risiko keuangan pada pihak ketiga yaitu perusahaan asuransi. Fokus utama asuransi adalah melindungi dari risiko finansial, investasi hanya sebagai tambahan.

Tak dapat dipungkiri, di Indonesia tingkat respondensitas tentang asuransi sangat rendah, masih banyak orang yang apatis bahkan anti terhadap asuransi. Beberapa diantaranya karena pelayanan buruk asuransi yang pernah terjadi di Indonesia, mulai dari pengurusan klaim yang cukup rumit dan menyita waktu, akumulasi dana yang sudah ditabungkan, dan hasil investasi tidak sesuai, dsb.


Oleh karena itu, baik untuk mendiskusikan kebutuhan ini dengan seorang financial planner. Financial planner akan membantu merancang masa depan klien, membantu memiliki proteksi finansial yang baik serta menganalisa pengalokasian dana klien agar produktif dan tepat guna.

No comments:

Post a Comment